KATA
PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat
Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa karena atas Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah Model
Pembelajaran Matematika II ini tepat pada waktunya. Makalah ini kami buat
dengan maksud memenuhi tugas dari dosen mata kuliah yang bersangkutan dengan
harapan dapat memperoleh hasil yang maksimal selain sebagai sumber referensi
dan bahan pembelajaran bagi pembaca dan kami pribadi.
Ada pun isi dari makalah ini
yakni membahas tentang Model Pembelajaran Kontekstual. Dalam makalah ini
kami mencoba menguraikan maksud dan penjelasan dari sejarah, teori pendukung,
langkah-langkah serta cara penerapan dari Model Pembelajaran Kontekstual tersebut.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karna
keterbatasan waktu, sumber referensi, maupun kemampuan diri kami pribadi
sehingga kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan dari para
pembaca.
|
Palu, 08 Oktober 2014
|
|
Penyusun
|
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................... ii
BAB
I. PENDAHULUAN.......................................................................................... 1
1.
Latar Belakang................................................................................................. 1
2.
Rumusan Masalah............................................................................................. 2
3.
Tujuan............................................................................................................... 2
BAB
II. PEMBAHASAN........................................................................................... 3
A.
Latar Belakang Filosofis Dan Psikologis.......................................................... 3
B.
Teori-Teori Yang Mendukung.......................................................................... 5
C.
Pengertian Pembelajaran Kontekstual.............................................................. 7
D.
Langkah-Langkah CTL.................................................................................... 8
E.
Karakteristik Pembelajaran CTL...................................................................... 12
F.
Strategi Pembelajaran Kontekstual................................................................... 14
G.
Perbedaan Pembelajaran Kontekstual Dan
Tradisional.................................... 16
H.
Keunggulan Dan Kelemahan Pembelajaran
Kontekstual................................. 18
BAB III. PENUTUP.................................................................................................... 20
Kesimpulan....................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 21
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Di Era Globalisasi seperti saat ini ada kecenderungan untuk kembali pada
pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan
alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika siswa mengalami apa yang dipelajarinya, bukan memgetahuinya. Pembelajaran yang
berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi
menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali siswa memecahkan persoalan dalam
kehidupan jangka panjang
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching
and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara
materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu,
hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran
berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan
mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah
membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan
dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai
sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota
kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa
kata guru. Begitulah peran
guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual
2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana Latar Belakang
CTL ?
b. Teori apa saja yang
mendukung model pembelajaran CTL ?
c. Apa pengertian pembelajaran Kontekstual ?
d. Bagaimana lankah-langkah
Pembelajaran Kontekstual?
e. Bagaimana
karakteristik Pembelajaran Kontekstual ?
f. Bagaimana
Strategi dalam Pembelajaran Kontekstual ?
g. Bagaimana
perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Tradisional?
h. Apa
saja kelebihan dan kekurangan Pembelajaran kontekstual ?
3. Tujuan
a. Mengetahui bagaimana Latar
Belakang CTL
b. Mengetahui Teori apa saja
yang mendukung model pembelajaran CTL.
c. Mengerti dan memahami pengertian Pembelajaran Kontekstual.
d. Mengetahui
bagaimana lankah-langkah Pembelajaran
Kontekstual.
e. Mengetahui
bagaimana karakteristik Pembelajaran Kontekstual.
f. Mengerti
bagaimana Strategi dalam Pembelajaran Kontekstual.
g. Mengetahui
bagaimana perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Tradisional.
h. Mengetahui
saja kelebihan dan kekurangan Pembelajaran kontekstual.
BAB II
PEMBAHASAN
Penerapan pembelajaran
kontekstual (Contextual Teaching and Learning) di Amerika Serikat
bermula dari pandangam ahli pendidikan klasik John Dewey yang pada tahun 1916
mengajukan teori kurikulum dan metodologi pengajaran yang berhubungan dengan
pengalaman dan minat siswa. Filosofi pembelajaran kontekstual berakar dari paham
progressivisme John Dewey. Intinya, siswa akan belajar dengan baik
apabila apa yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka
ketahui, serta proses belajar akan produktif jika siswa terlibat dalam proses
belajar di sekolah. Pokok-pokok pandangan progressivisme
antara lain:
1.
Siswa belajar dengan baik
apabila mereka secara aktif dapat mengkonstruksi sendiri pemahaman mereka
tentang apa yang diajarkan oleh guru.
2. Siswa harus bebas agar dapat berkembang
wajar.
3. Penumbuhan minat melalui pengalaman langsung
untuk merangsang belajar.
4. Guru sebagai pembimbing dan peneliti.
5. Harus ada kerja sama antara sekolah dan
masyarakat.
6. Sekolah progresif harus merupakan
laboratorium untuk melakukan eksperimen.
Selain teori progressivisme
John Dewey, teori kognitif melatarbelakangi pula filosofi pembelajaran
kontekstual. Siswa akan belajar dengan baik apabila mereka terlibat secara
aktif dalam segala kegiatan di kelas dan berkesempatan untuk menemukan sendiri. Siswa menunjukkan belajar dalam bentuk apa yang
mereka ketahui dan apa yang dapat mereka lakukan. Belajar dipandang sebagai usaha atau kegiatan intelektual untuk membangkit ide-ide yang
masih laten melalui kegiatan introspeksi.
Sejauh ini pendidikan kita masih
di dominasi oleh pandangan bahawa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta
yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama
pengetahuan, kemudian ceramah sebagai pilihan utama strategi belajar. Untuk
itu, diperlukan sebuah strategi belajar baru yang lebih memberdayakan siswa.
Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkontruksi
pengetahuan di benak mereka sendiri.
Berpijak pada dua pandangan
itu, filosofi konstruksivisme berkembang. Dasarnya pengetahuan dan keterampilan
siswa diperoleh dari konteks yang terbatas dan sedikit demi sedikit. Siswa yang
harus mengkontruksikan sendiri pengetahuannya.
Melalui landasan filosofi konstruksivisme, CTL
dipromosikan menjadi alternatif strategi belajar yang baru. Melalui strategi,
siswa diharapkan belajar melalui mengalami bukan menghafal.
Menurut filosofi
konstruktivisme, pengetahuan bersifat non-objektif, temporer, dan selalu
berubah. Segala sesuatu bersifat temporer, berubah dan tidak menentu. Belajar
adalah pemaknaan pengetahuan, bukan perolehan pengetahuan dan mengajar
diartikan sebagain kegiatan atau menggali makna, bukan memindahkan pengetahuan
kepada orang yang belajar. Otak atau
akal manusia berfungsi sebagai alat untuk melakukan interpretasi sehingga
muncul makna yang unik.
Dengan paham kontruksivisme,
siswa diharapkan dapat membangun pemahaman sendiri dari pengalaman/pengetahuan
terdahulu. Pemahaman yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman-pengalam belajar
bermakna. Siswa diharapkan memapu mempraktikkan pengetahuan /pengalaman yang
telah diperoleh dalam konteks kehidupan. Siswa diharapkan juga melakukan
refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut. Dengan demikian,
siswa dapat memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan yang
dipelajari. Pemahaman ini diperoleh siswa karena ia dihadapkan kepada
lingkungan belajar yang bebas yang merupakan unsur yang sangat esensial.
Hakikat teori kontruksivisme
adalah bahwa siswa harus menjadikan informasi itu menjadi miliknya sendiri.
teori kontruksivisme memandang siswa secara terus menerus memeriksa
informasi-informasi baru yang berlawanan dengan aturan-aturan lama dan
memperbaiki aturan-aturan yang tidak sesuai
lagi. Teori konstruksivis menuntut siswa berperan aktif dalam
pembelajaran mereka sendiri. Karena penekanannya pada siswa aktif, maka
strategi kontruksivis sering disebut pengajaran yang berpusat pada siswa
(student-centered instruction). Di dalam kelas yang pengajarannya terpusat kepada
siswa, peranan guru adalah membantu siswa menemukan fakta, konsep, atau prinsip
bagi diri mereka sendiri, bukan memberikan ceramah atau mengendalikan seluruh
kegiatan di kelas.
Beberapa proposisi yang dapat
dikemukakan sebagai implikasi dari teori kontruktivistik dalam praktek pembelajaran di sekolah-sekolah kita sekarang adalah sebagai berikut:
1. Belajar
adalah proses pemaknaan informasi baru
2.
Kebebasan merupakan unsur esensial dalam lingkungan belajar.
3.
Strategi belajar yang digunakan menentukan proses dan hasil belajar.
4. Belajar
pada hakikatnya memiliki aspek sosial dan budaya.
5. Kerja
kelompok dianggap sangat berharga.
Dalam pandangan
kontruksivistik, kebebasan dipandangan sebagai penentu keberhasilan karena
kontrol belajar dipegang oleh siswa sendiri. Tujuan pembelajaran
konstruktivistik menekankan pada penciptaan pemahaman yang menuntut aktivitas
yang kreatif dan produktif dalam konteks nyata. Dengan demikian, paham konstruktivistik menolak
pandangan behavioristik.
B.
Teori-Teori Yang Mendukung
Pada prinsipnya proses
belajar yang dialami manusia berlangsung sepanjang hayat, artinya belajar
adalah proses yang terus-menerus, yang tidak pernah berhenti dan terbatas pada
dinding kelas. Hal ini didasari pada asumsi bahwa di sepanjang kehidupannya,
manusia akan selalu dihadapkan pada masalah-masalah, rintangan-rintangan dalam
mencapai tujuan yang ingin dicapai dalam kehidupan ini. Ada beberapa teori belajar yang mendukung
pembelajaran dengan pendekatan kontektual diantaranya:
- Teori Piaget
Menurut Piaget perkembangan kognitif pada anak
secara garis besar terbagi empat periode yaitu: a) periode sensori motor ( 0 –
2 tahun); b) periode praoperasional (2-7 tahun); c)periode operasional konkrit
(7-11 tahun); d) periode operasi formal (11-15) tahun. Sedangkan konsep-konsep
dasar proses organisasi dan adaptasi intelektual menurut Piaget yaitu: skemata
(dipandang sebagai sekumpulan konsep); asimilasi (peristiwa mencocokkan
informasi baru dengan informasi lama yang telah dimiliki seseorang; akomodasi
(terjadi apabila antara informasi baru dan lama yang semula tidak cocok
kemudian dibandingkan dan disesuaikan dengan informasi lama); dan equilibrium
(bila keseimbangan tercapai maka siswa mengenal informasi baru).
- Teori Bruner
Teori belajar Bruner hampir serupa dengan teori
Piaget, Bruner mengemukakan bahwa perkembangan intelektual anak mengikuti tiga
tahap representasi yang berurutan, yaitu: a) enaktif, segala perhatian anak
tergantung pada responnya; b) ikonik, pola berpikir anak tergantung pada
organisasi sensoriknya dan c) simbolik, anak telah memiliki pengertian yang
utuh tentang sesuatu hal sehingga anak telah mampu mengutarakan pendapatnya
dengan bahasa.
Implikasi teori Bruner dalam proses pembelajaran adalah menghadapkan anak
pada suatu situasi yang membingungkan atau suatu masalah.Dengan pengalamannya
anak akan mencoba menyesuaikan atau mengorganisasikan kembali struktur-struktur
idenya dalam rangka untuk mencapai keseimbangan di dalam benaknya.
- Teori Vygotsky
Teori Vygotsky beranggapan bahwa pembelajaran
terjadi apabila anak-anak bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum
dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuannya (zone
of proximal development), yaitu perkembangan kemampuan siswa sedikit di
atas kemampuan yang sudah dimilikinya. Vygotsky juga menjelaskan bahwa proses
belajar terjadi pada dua tahap: tahap pertama terjadi pada saat berkolaborasi
dengan orang lain, dan tahap berikutnya dilakukan secara individual yang di
dalamnya terjadi proses internalisasi. Selama proses interaksi terjadi, baik
antara guru-siswa maupun antar siswa, kemampuan seperti saling menghargai,
menguji kebenaran pernyataan pihak lain, bernegosiasi, dan saling mengadopsi
pendapat dapat berkembang
Pembelajaran
Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan suatu
proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami
makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut
dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan
kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara
fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan ke permasalahan
lainnya.
CTL merupakan suatu konsep belajar
dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini,
hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran
berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami,
bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Pembelajaran kontekstual
dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang
memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan lima strategi
pembelajaran kontekstual (contextual
teaching and learning), yaitu relating,
experiencing, applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta
didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal.
Dalam kelas
kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih
banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru
mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja ber-sama untuk menemukan
sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari
menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang
dikelola dengan pendekatan kontekstual.
Pembelajaran
kontekstual (Contextual Teaching and
Learning) adalah konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan-nya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
CTL dapat
diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang
bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL
dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh
dalam CTL adalah sebagai berikut:
1.
Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivisme merupakan
landasan berpikir pendekatan kontekstual, yaitu pengetahuan dibangun sedikit
demi sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas
dan tidak dengan tiba-tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta,
konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Tetapi siswa harus
mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Siswa
perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi
dirinya, dan bergelut dengan ide-ide, yaitu siswa harus mengkontruksikan
pengetahuan dibenak mereka sendiri.
Esensi dari teori
kontruksivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransfomasikan
suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki informasi itu
menjadi milik mereka sendiri. Dengan dasar ini pembelajaran harus dikemas
menjadi proses mengkontruksi bukan menerima pengetahuan. Landasan berpikir
konstruktivisme agak berbeda dengan kaum objektif, yang lebih menekankan pada
hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivisme, strategi memperoleh lebih
diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat
pengetahuan. Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan :
(1) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa; (2) memberi
kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri; dan (3) menyadarkan
siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
2. Bertanya (questioning)
Pengetahuan yang dimiliki
seseorang, selalu bermula dari bertanya karena bertanya merupakan strategi
utama pembelajaran yang produkstif, kegiatan bertanya berguna untuk: (1)
menggali informasi baik administrasi maupun akademik; (2) mengecek pemahaman
siswa; (3) membangkitkan respon pada siswa; (4) mengetahui sejauh mana keingin
tahuan siswa; (5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa; (6)
memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru; (7) untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa; (8) untuk
menyegarkan kembali pengetahuan siswa. Pada semua aktivitas belajar, questioning
dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara guru dan siswa, antara siswa
dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas dan
sebagainya.
3. Menemukan (inquiry)
Menemukan merupakan bagian
inti dari kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual. Pengetahuan
dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat
seperangkat fakta-fakta tetapi juga hasil dari menemukan sendiri. Siklus
inquiry adalah (1) observasi, (2) bertanya, (3) mengajukan dugaan, (4)
pengumpulan data, (5) penyimpulan. Kata kunci dari strategi inquiry adalah
siswa menemukan sendiri, adapun langkah-langkah kegiatan menemukan sendiri
adalah: (1) merumuskan masalah dalam mata pelajaran apapun; (2) mengamati atau
melakukan observasi; (3) menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan,
gambar,laporan, bagan tabel, dan karya lainnya; dan (4) mengkomunikasikan atau
menyajikan hasil karya pada pembaca, teman kelas, guru, atau audience lainnya.
4. Masyarakat Belajar (learning community)
Konsep learning community
menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang
lain. Hasil belajar didapat dari berbagi antara kawan, kelompok, dan antara
yang tahu ke yang belum tahu. Di ruang kelas ini, di sekitar sini, juga dengan orang-orang yang diluar
sana semua adalah anggota masyarakat belajar. Dalam kelas yang menggunakan
pendekatan kontekstual, guru disarankan dalam melaksanakan pembelajaran dalam
kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya
heterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberitahu yang belum
tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai
gagasan segera memberikan usul dan seterusnya. Kelompok siswa bisa sangat
bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah, bahkan bisa melibatkan siswa di
dalam kelas atasnya, atau guru mengadakan kolaborasi dengan mendatangkan
seorang ahli ke kelas.
5. Permodelan (modelling)
Dalam sebuah pembelajaran
keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model itu,
memberi peluang yang besar bagi guru untuk memberi contoh cara mngerjakan
sesuatu, dengan begitu guru memberi model tentang bagaimana belajar. Dalam
pendekatan kontekstual guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang
dengan melibatkan siswa, seorang siswa dapat ditunjuk untuk memberikan contoh
temannya, misalnya cara melafalkan suatu kata. siswa contoh tersebut dikatakan
sebagai model, siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai standar
kompetensi yang harus dicapai.
6. Refleksi (reflection)
Refleksi adalah cara berfikir
tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang
sudah kita lakukan dalam hal belajar di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang
dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan
atau revisi dari pengetahuan sebelummnya. Refleksi merupakan respons terhadap
kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.
7. Penilaian Sebenarnya (authentic
assessment)
Assessment adalah proses
pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran belajar siswa. Gambaran
perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa
siswa mengalami proses pembelajaran yang benar. Apabila data yang dikumpulkan
guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami
kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena
gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan disepanjang proses
pembelajaran, maka penilaian tidak dilakukan diakhir periode seperti akhir
semester. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melalui hasil, dan dengan
berbagai cara. Tes hanyalah salah satunya, itulah hakekat penilaian yang sebenarnya.
Penilai tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman lain atau orang lain.
Karakteristik penilaian sebenarnya adalah (1) dilaksanakan selama dan sesudah
proses pembelajaran berlangsung; (2) bisa digunakan untuk formatif maupun
sumatif; (3) yang diukur keterampilan dan performasi, bukan hanya mengingat
fakta; (4) berkesinambungan; (5) terintegrasi; (6) dapat dipergunakan sebagai
feed back. Dengan demikian pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan
pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn)
sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi diakhir
periode pembelajaran.
1.
Kerjasama.
2.
Saling menunjang.
3.
Menyenangkan, tidak
membosankan.
4.
Belajar dengan bergairah.
5.
Pembelajaran terintegrasi.
6.
Menggunakan berbagai sumber.
7.
Siswa aktif.
8.
Sharing dengan teman.
9.
Siswa kritis guru kreatif.
10.
Dinding dan lorong-lorong penuh
dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain.
11.
Laporan kepada orang tua bukan
hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa
dan lain-lain
Dalam pembelajaran kontekstual,
program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang
guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan
bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program
tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi
pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessment-nya.
Dalam konteks itu, program yang
dirancang guru benar-benar rencana pribadi
tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara umum tidak
ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan
program pembelajaran kontekstual. Program pembelajaran konvensional lebih
menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional),
sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario
pembelajarannya.
Beberapa komponen utama dalam pembelajaran
Kontekstual menurut Johnson (2000: 65), yang dapat di uraikan sebagai berikut:
1.
Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful
connections)
Keterkaitan yang mengarah pada
makna adalah jantung dari pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan isi dari
mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam. Atau sejarah dengan pengalamannya mereka sendiri,
mereka menemukan makna, dan makna memberi mereka alasan untuk belajar.
Mengkaitkan pembelajaran dengan kehidupan seseorang membuat proses belajar
menjadi hidup dan keterkaitan inilah inti dari CTL.
2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (doing
significant works)
Model pembelajaran ini menekankan bahwa
semua proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi
siswa sehingga mereka dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan
siswa.
3. Belajar yang diatur
sendiri (self-regulated Learning)
Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran
yang aktif, mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan
kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang berarti bagi siswa. Pembelajaran
yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa menggunakan gaya
belajarnya sendiri.
4. Bekerjasama (collaborating)
Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja
secara efektif dalam kelompok, membantu siswa bekerja secara efektif dalam
kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan
saling berkomunikasi.
5. Berpikir kritis dan
kreatif (critical dan creative thinking)
Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan
kemampuan berpikir tahap tinggi, berpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir
kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam
menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis
asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental
untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu.
6. Mengasuh atau memelihara
pribadi siswa (nuturing the individual)
Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya
mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga
aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung jawab,
disiplin, motif berprestasi, dsb. Guru dalam pembelajaran kontekstual juga
berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat,
kebutuhan dan kemampuannya.
7. Mencapai standar yang
tinggi (reaching high standards)
Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang
secara optimal, mencapai keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa
mencapai keunggulan, asalkan dia dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi
dan kekuatannya.
8. Menggunakan Penilaian
yang otentik (using authentic assessment)
Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan
informasi dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan
tertentu. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian standar, penilaian
autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik
mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka pelajari.
Pembelajaran kontekstual
menempatkan siswa di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal
siswa dengan materi yang sedang dipelajari. Strategi yang berasosiasi dengan
pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut.
1.
Belajar berbasis Masalah (Problem-Based Learning)
Suatu pendekatan pengajaran
yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk
belajar tentang berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk
memperoleh pegetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. Dalam
pengetahuan dan konsep yang esensi dari mata pelajaran. Dalam hal ini siswa
terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang mengintegrasikan
keterampilan dan konsep dari berbagai isi materi pelajaran. Pendekatan ini
mencakup pengumpulan informasi yang berkaitan dengan pertanyaan, mensintesis,
dan mempresentasikan penemuannya kepada orang lain.
2.
Pembelajaran Autentik (Authentic Instruction)
Suatu pendekatan pengajaran
yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna. Ia mengembangkan
keterampilan berpikir dan memecahkan masalah yang penting di dalam konteks
kehidupan nyata.
3. Belajar Berbasis Inquiry
(Inquiry-Based Learning)
Suatu pendekatan pembelajaran yang mengikuti metodologi
sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
4. Belajar berbasis
Proyek/Tugas (Project-Based Learning)
Suatu pendekatan pembelajaran komprehensif di mana
lingkungan belajar siswa (kelas) didesain agar siswa dapat melakukan
penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu
topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Pendekatan ini
memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengkonstruk pembelajarannya,
dan mengkulminasikan dengan produk nyata.
5. Belajar Berbasis Kerja (Work-Based
Learning)
Suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa
menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis
sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali di tempat kerja.
Jadi dalam hal ini, tempat kerja atau sejenisnya dan berbagai aktifitas
dipadukan dengan materi pelajaran untuk
kepentingan siswa.
6. Belajar Berbasis
Jasa-Layanan (Service Learning)
Suatu pendekatan pembelajaran yang mengkombinasikan jasa
layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan
jasa-layanan tersebut, jadi menekankan hubungan antara pengalaman jasa-layanan
dan pembelajaran akademis. Dengan kata lain, pendekatan ini menyajikan suatu
penerapan praktis dari pengetahuan baru yang diperlukan dan berbagi
keterampilan untuk memenuhi kebutuhan dalam masyarkat melalui proyek/tugas
terstruktur dan kegiatan lainnya.
7. Belajar Kooperatif (Cooperatif
Learning)
Pendekatan pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil
siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai
tujuan.
Terlihat jelas perbedaan proses pembelajaran
kontekstual yang berpijak pada pandangan
kontrukstivisme dengan pembelajaran tradisional yang berpijak padangan behaviorisme-objektivis.
Ada beberapa perbedaan yang dapat diuraikan sebagai berikut:
1.
Dalam pembelajaran kontekstual,
siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran, sedangkan dalam
pembelajaran tradisional siswa adalah penerima informasi yang pasif.
2.
Dalam pembelajaran kontekstual,
siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi,
sedangkan dalam pembelajaran tradisional siswa belajar secara individual.
3.
Dalam pembelajaran kontekstual,
pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang
disimulasikan, sedangkan dalam pemebelajaran tradisional pembelajaran sangat
abstrak.
4.
Dalam pembelajaran kontekstual,
perilaku dibangun atas kesadaran sendiri sedangkan dalam pembelajaran
tradisional perilaku dibangun atas kebiasaan.
5.
Dalam pembelajaran kontekstual,
keterampilan dibangun atas kesadaran diri,, sedangkan dalam pembelajaran
tradisional ketrampilan dikembangkan atas dasar latihan.
6.
Dalam pembelajaran kontekstual,
hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri, sedangkan dalam pembelajaran
tradisional hadiah untuk perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor.
7.
Dalam pembelajaran kontekstual,
seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan
merugikan., sedangkan dalam pembelajaran tradisional seseorang tidak melakukan
yang jelek karena dia takut hukuman.
8.
Dalam pembelajaran kontekstual,
bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan
bahasa dalam konteks nyata, sedangkan dalam pembelajaran tradisional, bahasa
diajarkan dengan pendekatan struktural: rumus diterapkan sampai paham, kemudian
dilatihkan (drill).
9.
Dalam pembelajaran kontekstual,
pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri
siswa, sedangkan dalam pembelajaran tradisional rumus itu ada di luar diri
siswa, yang harus dikembangkan, diterima dan dilafalkan, dan dilatihkan.
10.
Dalam pembelajaran kontekstual,
siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis, terlibat penuh dalam pengupayakan
terjadinya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggungjawab atas
terjadinya proses pembelajaran yang efektif, dan membawa skemata masing-masing
ke dalam proses pembelajaran sedangkan dalam pembelajaran tradisional siswa
secara pasif menrima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat, menghapal),
tampa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran.
11.
Dalam pembelajaran kontekstual,
pengetahuan yang dimiliki oleh manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri.
Manusia menciptakan atau membangun pengetahuan dengan cara memberi arti dan
memahami pengalamannya sedangkan dalam pembelajaran tradisional pengetahuan
adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep, atau hukum yang brada di
luar diri manusia.
H. Keunggulan
dan Kelemahan Pembelajaran Kontekstual
Adapun beberapa keunggulan dari
pembelajaran Kontekstual adalah:
1. Pembelajaran menjadi lebih bermakna
dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara
pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting,
sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata,
bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi
materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak
akan mudah dilupakan.
2. Pembelajaran lebih produktif dan
mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL
menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan
pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa
diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.
3. Kontekstual adalah model
pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik
maupun mental
4. Kelas dalam pembelajaran Kontekstual
bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, akan tetapi sebagai tempat
untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan
5. Materi pelajaran dapat ditemukan
sendiri oleh siswa, bukan hasil pemberian dari guru
6. Penerapan pembelajaran Kontekstual
dapat menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna
Sedangkan kelemahan dari
pembelajaran Kontekstual adalah sebagai berikut:
1. Diperlukan waktu yang cukup lama
saat proses pembelajaran Kontekstual berlangsung
2. Jika guru tidak dapat mengendalikan
kelas maka dapat menciptakan situasi kelas yang kurang kondusif
3. Guru lebih intensif dalam
membimbing. Karena dalam metode CTL, guru tidak lagi berperan sebagai
pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang
bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi
siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan
dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya.
Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ”penguasa” yang memaksa kehendak melainkan
guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap
perkembangannya.
4. Guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar
dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri
untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra
terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan
semula.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat dengan cara menempatkan siswa di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan
awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari. CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan
kelas yang bagaimanapun keadaannya.
DAFTAR
PUSTAKA