BAB
I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dalam implementasi kurikulum, model, pendekatan, strategi, metode, dan
teknik pembelajaran merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, karena
suatu model tertentu yang digunakan dalam implementasikan kurikulum membawa
implikasi terhadap penggunaan pendekatan, strategi, metode, dan teknik
pembelajaran tertentu pula. Dalam implementasi kurikulum atau proses
pembelajaran selalu ditemukan istilah model pembelajaran. Model pengajaran
adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yang pada
umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan pembelajaran. Pola urutan dari
macam-macam model pengajaran memiliki komponen yang sama. Salah satu dari model
pembelajaran tersebut adalah model presentasi.
Model Presentasi merupakan adaptasi dari model Advance Organizer yang
mengharuskan guru untuk mempersiapkannya sebelum mempresentasikan
informasi baru dan secara khusus memperkuat dan memperluas
pemikiran siswa selama dan setelah presentasi. Pendekatan ini banyak dipilih
oleh guru karena cocok dengan pengetahuan sekarang tentang
cara individu memperoleh, memproses dan menyimpan informasi baru; dan berbagai
komponen model ini telah dikaji dengan seksama sehingga memberikan dasar
pengetahuan yang substansial, meskipun tidak selalu konsisten. Secara singkat
hasil belajar model presentasi cukup jelas dan tidak rumit dalam membantu
siswa memperoleh, mengasimilasi, menyimpan informasi baru; memperluas struktur
konseptual dan kebiasaan mendengarkan dan memikirkan informasi.
2.
Tujuan
·
Mengenal model pengajaran presentasi,
·
Mengetahui tahapan-tahapan, aplikasi, serta dampak penggunaanya.
BAB
II. PEMBAHASAN
BELAJAR
DENGAN MODEL PRESENTASI
David
Ausubel adalah seorang ahli teori pendidikan yang berbeda. Pertama, ia langsung
menujukan pada tujuan mempelajari suatu materi. Kedua, ia mendukung peningkatan
metode pengajaran presentasional (kuliah dan membaca) pada saat para ahli teori
dan kritikus sosial lain menguji validitas metode-metode ini dan menemukan
kesalahan pada sifat pasif pembelajaran ekspositori. Bertentangan dengan mereka
yang mendukung metode pengajaran discovery, “pendidikan terbuka,” dan
pembelajaran berbasis pengalaman, tanpa malu Ausubel mempertahankan penguasaan
materi akademik melalui presentasi.
Ausubel juga salah satu ahli psikologi pendidikan yang menujukan pembelajaran, pengajaran, dan kurikulum secara berkesinambungan. Teorinya mengenai pembelajaran verbal bermakna berhubungan dengan tiga hal: (1) bagaimana pengetahuan (isi kurikulum) disusun, (2) bagaimana otak bekerja untuk memproses informasi baru (pembelajaran), dan (3) bagaimana guru bisa menerapkan ide-ide mengenai kurikulum dan pembelajaran ketika mereka mengajarkan materi baru kepada siswa (pengajaran).
Ausubel juga salah satu ahli psikologi pendidikan yang menujukan pembelajaran, pengajaran, dan kurikulum secara berkesinambungan. Teorinya mengenai pembelajaran verbal bermakna berhubungan dengan tiga hal: (1) bagaimana pengetahuan (isi kurikulum) disusun, (2) bagaimana otak bekerja untuk memproses informasi baru (pembelajaran), dan (3) bagaimana guru bisa menerapkan ide-ide mengenai kurikulum dan pembelajaran ketika mereka mengajarkan materi baru kepada siswa (pengajaran).
1. Tujuan dan Asumsi
Perhatian
utama Ausubel adalah untuk membantu guru dalam menyusun dan menyampaikan
sejumlah besar informasi sebermakna dan seefisien mungkin. Ia meyakini bahwa
akuisisi bersifat valid, juga merupakan tujuan pengajaran yang esensial, dan
bahwa teori-teori tertentu bisa memandu guru dalam menyampaikan ilmu kepada siswa.
Pendapatnya bisa diterapkan pada situasi di mana guru memiliki peran sebagai
organisator suatu materi pelajaran dan menyajikan informasi melalui kuliah,
bacaan, dan pemberian tugas kepada siswa untuk mengintegrasikan apa yang telah
dipelajari. Dalam pendekatannya, guru bertanggung jawab menyusun dan menyajikan
apa yang akan dipelajari. Peran utama siswa adalah untuk menguasai ide-ide dan
informasi. Mengingat pendekatan induktif membantu siswa untuk mengetahui dan
mengetahui kembali konsep-konsep, maka organisator terdepan harus memberikan
konsep-konsep dan dasar-dasar kepada siswa secara langsung. Secara mengesankan,
Ausubel meyakini bahwa siswa harus menjadi konstruktor aktif terhadap ilmu
pengetahuan, tetapi rutenya mengajarkan mereka mengenai metalevel dari suatu
disiplin ilmu dan relatif memberikan metakognisi terhadap bagaimana mereka
merespon pengajaran secara produktif, daripada memulai dengan dunia perseptual
dan merangsang mereka terhadap strukturnya.
Model
organisator terdepan dirancang untuk memperkuat struktur kognitif
siswa-pengetahuan mereka mengenai suatu subjek pada waktu tertentu dan seberapa
baik, jelas, dan stabil tersusunnya suatu pengetahuan. Dengan kata lain,
struktur kognitif berhubungan dengan jenis bidang ilmu di dalam otak kita, seberapa
banyak, dan seberapa baik susunannya.
Ausubel
mempertahankan pendapat bahwa struktur kognitif yang dimiliki seseorang
merupakan faktor yang terus-menerus menentukan apakah materi baru akan bermakna
dan seberapa baik hal tersebut bisa dipahami dan dipertahankan. Sebelum kita
bisa menyampaikan materi baru secara efektif, kita harus meningkatkan
stabilitas dan kejelasan struktur yang dimiliki oleh siswa kita. Hal ini
dilakukan dengan memberikan konsep yang menentukan informasi yang akan
diberikan kepada mereka. Contohnya galeri seni, di mana dosen menyampaikan
materi bahwa karya seni merefleksikan budaya dan perubahan budaya, dimaksudkan
untuk memberikan perancah intelektual yang akan memungkinkan siswa untuk
melihat informasi yang terdapat dalam lukisan dengan lebih jelas. Membuka
kursus kimia seperti apa yang dilakukan oleh Wendy dan Keith merupakan contoh
lain—siswa memiliki sedikit pengetahuan tentang kimia, jadi dengan menyusun
konsep-konsep menyediakan struktur konseptual yang bisa dibangun oleh kursus
tersebut. Dengan memperkuat struktur kognitif siswa dalam hal ini memfasilitasi
akuisisi dan retensi mereka mengenai informasi baru. Ausubel menolak pendapat
bahwa pembelajaran dengan menyimak, menonton, atau membaca adalah cara belajar
yang pasif dan tidak bermakna. Sebenarnya bisa juga, tetapi tidak akan terjadi
jika otak siswa dipersiapkan untuk menerima dan memproses informasi. Jika otak
mereka tidak dipersiapkan, siswa harus kembali belajar dengan cara menghafal
(mengulang materi lagi dan lagi), yang tentu saja sukar dilakukan dan sangat
mudah dilupakan. Berbagai metode pengajaran yang tidak digunakan dengan baik
bisa membawa pada pembelajaran yang menekankan hafalan. Tidak ada pengecualian
untuk menggunakan pengajaran ekspositori. Metode itu berguna dalam memproses
informasi secara aktif.
Apa
yang Dimaksud dengan Bermakna?
Menurut
Ausubel, bermakna tidaknya suatu materi lebih tergantung pada kesiapan siswa
dan penyusunan materi daripada metode presentasi. Jika siswa memulai dengan
“set” yang benar, dan jika materinya disusun dengan baik, maka pembelajaran
yang bermakna bisa terjadi.
Apakah
Pembelajaran Reseptif Bersifat Pasif?
Ausubel
mengatakan “Tidak!” selama terbentuknya kondisi yang sesuai. Selama kuliah atau
bentuk pengajaran ekspositori lain, otak pendengar atau penonton bisa cukup
aktif. Tetapi mereka harus terlibat dalam materi yang berkaitan dengan struktur
kognitif mereka. Ausubel berbicara mengenai kerja keras siswa dalam penguasaan
materi, melihatnya dari sisi yang berbeda, merekonsiliasinya dengan informasi
yang serupa atau bahkan bertentangan, dan dengan menerjemahkannya kedalam
referensi dan terminologi yang mereka miliki. Tetapi, hal ini tidak terjadi
secara otomatis.
2. Model Pengajaran
Model
pengajaran yang dikembangkan di sini berdasarkan atas ide Ausubel mengenai
permasalahan, struktur kognitif, daya serap pembelajaran aktif, dan pengelolaan
kelas lanjutan.
A. Sintaksis
Model
organiser lanjutan memiliki tiga tahap. Tahap pertama yaitu penyajian atas
organiser lanjutan, tahap kedua yaitu penyajian atas tugas-tugas belajar atau
bahan ajar, dan tahap ketiga yaitu penguatan kognitif. Tahap ketiga menguji
hubungan bahan ajar terhadap gagasan yang ada untuk melahirkan proses belajar
yang aktif. Rangkuman dari sintaksis disajikan dalam tabel.
|
Tahap
Pertama:
·
Penyajian
·
Pengelolaan Kelas Lanjutan
|
|
|
Tahap
Kedua:
·
Penyajian tugas belajar atau
bahan ajar
·
Menjelaskan tujuan pembelajaran.
·
Menyajikan pengelolaan:
·
Menjelaskan permasalahan.
·
Memberikan contoh
·
Memberikan konteks.
·
Mengulang.
·
Mendorong kesadaran atas
pemahaman dan pengalaman siswa.
·
Menyajikan materi.
·
Menarik perhatian
·
Membuat pengelolaan explisit.
·
Membuat hubungan logis dari
proses belajar secara explisit.
|
Tahap Ketiga:
·
Penguatan Pengelolaan Kognitif
·
Menggunakan prinsip rekonsiliasi
integratif.
·
Mendukung daya serap pembelajaran
secara aktif
·
Menghindari pendekatan yang
kritis atas subjek permasalahan.
·
Mengklarifikasi.
|
Aktifitas
tersebut di atas didisain untuk meningkatkan kejelasan dan kestabilan bahan
ajar yang baru sehingga dapat meminimalisir hilangnya ide, bingung antara satu
hal dan yang lainnya, atau meninggalkan ketidak jelasan. Siswa harus mengunakan
materi ketika mereka menerimanya dengan mengkorelasikan bahan ajar yang baru
dengan pengalaman pribadi dan struktur kognitif yang telah ada, dan dengan
sikap kritis terhadap pengetahuan.
Tahap satu terdiri dari tiga aktifitas: Menjelaskan tujuan pembelajaran. menyajikan materi, dan mendorong kesadaran atas pemahaman dan pengalaman siswa. Menjelaskan tujuan pembelajaran merupakan satu cara untuk mendapatkan perhatian siswa dan untuk membimbinb mereka mencapai tujuan pendidikan, kedua hal tersebut sangat penting untuk memfasilitasi pembelajaran yang bermakna. (Menjelaskan tujuan juga sangat berguna bagi guru dalam merancang sebuah rencana pengajaran.)
Tahap satu terdiri dari tiga aktifitas: Menjelaskan tujuan pembelajaran. menyajikan materi, dan mendorong kesadaran atas pemahaman dan pengalaman siswa. Menjelaskan tujuan pembelajaran merupakan satu cara untuk mendapatkan perhatian siswa dan untuk membimbinb mereka mencapai tujuan pendidikan, kedua hal tersebut sangat penting untuk memfasilitasi pembelajaran yang bermakna. (Menjelaskan tujuan juga sangat berguna bagi guru dalam merancang sebuah rencana pengajaran.)
Seperti
yang telah dijelaskan, pengelolaan kelas bukan hanya sekedar pernyataan yang
simpel dan singkat; hal tersebut merupakan suatu gagasan dan seperti materi
pembelajaran harus digali secara intelektual. Metode tersebut juga harus
dipisahkan dari pengenalan materi yang berguna untuk pelajaran tetapi bukan
pengelolaan kelas lanjutan. Sebagai contoh, ketika kita mengajar, banyak
diantara kita yang mulai dengan perkenalan dengan meminta siswa untuk mengingat
apa yang mereka kerjakan minggulalu atau tahun lalu atau dengan mengatakan pada
mereka apa yang akan mereka lakukan esok hari. Dalam hal ini, kita memberi
mereka sebuah konteks atau orientasi untuk presentasi kita. Atau kita mungkin
meminta siswa untuk mengingat pengalaman dan mengatakan apa yang akan kita
sampaikan akan menolong mereka untuk memahami pengalaman sebelumnya. Kita juga
mungkin mengatakan pada mereka tujuan dari proses belajar pada saat itu-apa
yang kita harapkan adalah mereka mendapatkan manfaat dari presentasi ataupun
diskusi yang telah mereka lakukan.
Tak
satupun dari teknik yang dijabarkan merupakan organiser lanjutan. Namun, semua
bagian dari presentasi yang terorganisir dengan baik, dan merefleksikan prinsip
yang penting dalam teori Ausuble mengenai pembelajaran verbal bermakna dan
merupakan bagian dari model pengajaran.
Organiser
aktual dikembangkan diseputar konsep utama dan/atau proposisi dari sebuah disiplin
ilmu atau area pembelajaran. Pertama, pengelola telah di konstruksi sehingga
pelajar dapat memperolehnya-suatu ide berbeda dan lebih inklusif dari material
pembelajaran itu sendiri. Tampilan dari organiser yang paling utama yaitu pada
level yang lebih tinggi dari abstraksi merupakan organiser yang dibedakan dari
introduktori overview, yang ditulis (atau dikatakan) pada level yang sama dari
abstraksi sebagai materi pembelajaran karena pada kenyataannya mereka merupakan
preview dari pembelajaran.
Kedua,
apakah organiser merupakan expositori atau komparatif, tampilan yang paling
esensial dari sebuah konsep atau proposisi harus di garisbawahi dan dijelaskan
dengan hati-hati. Namun, guru dan siswa harus menggali organiser seperti halnya
tugas pembelajaran. Untuk kita, hal ini berarti menyebutkan ciri-ciri penting,
menjelaskannya, dan memberikan contoh. Presentasi suatu organiser tidak harus
lama, tetapi harus dipahami (pembelajar harus sadar akan hal tersebut), dengan
jelas dapat dimengerti, dan berhubungan dengan materi yang diberikan. Hal
tersebut berarti siswa harus sudah mengenal bahasa dan ide-ide yang ada pada
organiser. Hal tersebut juga berguna untuk mengilustrasikan organiser dalam
konteks perkalian dan untuk mengulang beberapa kali, terutama untuk terminologi
baru tertentu. Terakhir, sangat penting untuk mendorong kesadaran siswa atas
pengetahuan dan pengalaman yang mungkin relevan dengan pembelajaran dan
organiser.
Berikut merupakan presentasi dari organiser lanjutan dalam tahap pertama, materi pembelajaran disajikan pada tahap dua dalam pembelajaran formal, diskusi, filem, eksperimen, atau bacaan. Selama presentasi, pengelolaan materi pembelajaran perlu untuk disajikan secara eksplisit sehingga seluruh pancaindra siswa diarahkan dan dapat melihat susunan logis dari materi dan bagaimana pengelolaan berhubungan dengan organizer lanjutan.
Berikut merupakan presentasi dari organiser lanjutan dalam tahap pertama, materi pembelajaran disajikan pada tahap dua dalam pembelajaran formal, diskusi, filem, eksperimen, atau bacaan. Selama presentasi, pengelolaan materi pembelajaran perlu untuk disajikan secara eksplisit sehingga seluruh pancaindra siswa diarahkan dan dapat melihat susunan logis dari materi dan bagaimana pengelolaan berhubungan dengan organizer lanjutan.
Tujuan
dari tahap ketiga yaitu untuk mengikat materi pembelajaran baru dalam struktur
kognitif siswa-yaitu untuk menguatkan pengorganisasian kognitif siswa. Dalam pengajaran
bahasa, beberapa dari prosedur tersebut mungkin dikorporasikan kedalam dua
tahap; namun, kami ingin menitik beratkan pada pengerjaan ulang dari materi
pembelajaran baru yang merupakan tugas mengajar yang terpisah, dengan sejumlah
kegiatan dan kemampuannya sendiri. Ausubel menjelaskan empat aktifitas:
(1)
mendukung rekonsiliasi integratif.
(2)
mendukung daya serap pembelajaran yang
aktif.
(3)
mengadakan pendekatan kritis terhadap
subjek permasalahan.
(4)
memberikan klarifikasi.
Ada
beberapa cara untuk memfasilitasi rekonsiliasi materi baru dengan struktur
kognitif yang telah ada. Guru dapat
1)
Mengingatkan siswa dengan ide-ide
(gambar yang besar),
2)
Meminta siswa untuk membuat rangkuman
dari atribut utama daribahan ajar yang baru,
3)
Mengulang definisi-definisi yang penting
4)
Meminta siswa untuk membuat perbedaan
antara aspek material dan
5)
Meminta siswa untuk menjelaskan
bagaimana bahan ajar mendukung konsep atau proposisi yang digunakan oleh
organizer.
Pembelajaran yang aktif dapat didukung oleh (1) meminta siswa untuk menjelaskan bagaimana materi baru berhubungan dengan organiser (2) meminta siswa untuk memberikan contoh lain dari konsep atau proposisi dalam bahan ajar, (3) meminta siswa untuk memverbalkan esensi dari materi dengan menggunakan terminologi dan kerangka referensi mereka sendiri, dan (4) meminta siswa untuk menelaah materi dari sudut pandang alternatif.
Pendekatan kritis terhadap pengetahuan dikembangkan dengan meminta siswa untuk mengenali asumsi ataau kesimpulan yang telah dibuat dalam materi pembelajaran, untuk menilan dan menantang asumsi dan kesimpulan tersebut, dan untuk merekonsiliasi kontradiksi diantara mereka.
Tidak
mungkin atau tidak disarankan untuk menggunakan seluruh teknik tersebut dalam
satu pelajaran. Batasan waktu, topik, dan relevansi atas situasi proses belajar
tertentu akan menentukan kegunaannya. Namun, penting untuk mengingat keempat
tujuan dari tahap-tahap tersebut dan teknik khusus untuk pengajaran expository
yang efektif. Pada awalnya, guru harus merespon kebutuhan siswa untuk
mengklarifikasi beberapa topik dan untuk integrasi dari materi baru dengan
pengetahuan yang sudah ada.
Pada
dasarnya, Ausubel telah memberikan kita suatu metode untuk meningkatkan tidak
hanya presentasi tetapi juga kemampuan siswa untuk mempelajarinya. Semakin
sering kita mengajar siswa menjadi aktif-untuk menyusun ide-ide, merekonsiliasi
informasi, dan menghasilkan organiser mereka sendiri. (terhubung dengan
aktifitas induktif padasaat membaca atau menonton)-semakin besar potensi mereka
untuk mendapatkan hasil dari presentasi selanjutnya.
B. Sistem Sosial
Dalam
model ini guru menguasai kontrol terhadap struktur intelektual, karena
haltersebuat tetap penting untuk menghubungkan materi pembelajaran dengan
organiser dan untuk membantu siswa untuk membedakan materi baru dari materi
pembelajaran sebelumnya. Pada tahap ketiga situasi pembelajaran secara ideal
jauh lebih interaktif, dengan banyak pertanyaan dan komentar yang diajukan
siswa. Proses pembelajaran yang berhasil tergantung dari hasrat siswa untuk
mengintegrasikannya dengan pengetahuan yang telah ada, atas kemampuan kritis
mereka, dan atas presentasi guru dan pengorganisasian bahan ajar.
C. Prinsip Reaksi
Respon
guru atas reaksi siswa baik yang didapat ataupun tidak akan dituntun oleh
tujuan dari kejelasan makna dari materi pembelajaran baru, membedakannya dan
menyesuaikannya dengan pengetahuan yang ada, membuatnya lebih relevan secara
personal terhadap siswa dan membantu mempromosikan sebuah pendekatan kritis
terhadap pengetahuan. Secara ideal, siswa akan mengajukan pertanyaan mereka
sendiri sebagai respon atas hasrat mereka untuk menemukan makna atau arti.
D. Sistem Dukungan
Material
terorganisir yang baik adalah persyaratan dukungan yang kritis dari model ini.
Efektivitas dari organisator lanjutan bergantung pada satu hubungan yang sesuai
dan yang integral antara organisator yang konseptual dan isi. Model ini
menyediakan petunjuk untuk membangun (atau menyusun kembali) material-material
instruksional.
3. Penerapan
Penggunaan
Instruksional
Model
organiser lanjutan berguna terutama untuk pengembangan sekwensi kurikulum atau
pembelajaran dan untuk mengajar ide pokok kepada siswa secara sistematis.
Selangkah demi selangkah, konsep utama dan proposisi di jelaskan dan
diintegrasikan sehingga pada ahkhir periode pengajaran, pelajar mendapatkan
prespektif dari seluruh bidang yang telah mereka pelajari.
Kita
juga harus meningkatkan daya tangkap siswa atas informasi faktual yang terkait
dan dijelaskan oleh ide-ide yang penting. Sebagai contoh, konsep sosialisasi
dapat di ulang dalam pelajaran pola sosialisasi dalam kultur dan subkultur yang
berbeda. Organiser lanjutan ini membantu siswa dalam mengembangkan
pengetahuannya mengenai kebudayaan.
Model tersebut dapat juga digunakan untuk mengajarkan keahlian daya tangkap pembelajaran yang efektif. Pemikiran kritis dan reorganisasi kognitif dapat dijelaskan kepada siswa, yang menerima instruksi langsung dalam pemikiran yang teratur dan dalam gagasan dari hirarki pengetahuan. Akhirnya, mereka dapat menerapkan teknik tersebut secara mandiri pada pembelajaran lainnya. Dengan kata lain, model tersebut dapat meningkatkan keefektipan dalam membaca dan menonton film dan aktifitas belajar lainnya.
Model tersebut dapat juga digunakan untuk mengajarkan keahlian daya tangkap pembelajaran yang efektif. Pemikiran kritis dan reorganisasi kognitif dapat dijelaskan kepada siswa, yang menerima instruksi langsung dalam pemikiran yang teratur dan dalam gagasan dari hirarki pengetahuan. Akhirnya, mereka dapat menerapkan teknik tersebut secara mandiri pada pembelajaran lainnya. Dengan kata lain, model tersebut dapat meningkatkan keefektipan dalam membaca dan menonton film dan aktifitas belajar lainnya.
Model
lainnya juga berguna untuk mengevaluasi atau menerapkan materi yang disajikan
oleh organiser lanjutan. Sebagai contoh, model organiser lanjutan setelah
memperkenalkan materi baru dalam sebuah deduktif, cara presentasional, dapat
diikuti oleh konsep aktifitas induktif yang mendukung materi atau yang secara
informal mengevaluasi pencapaian materi oleh siswa.
4. Instruksional dan Dampak
Kemungkinan
dari manfaat dari model tersebut terlihat jelas-ide-ide mereka sendiri yang
digunakan sebagai organiser dipelajari seperti halnya informasi yang
disampaikan pada siswa. Kemampuan untuk belajar membaca, mengajar, dan media
lainnya yang digunakan untuk presentasi merupakan efek lain, seperti
ketertarikan dalam inkuiri dan kebiasaan berfikir tepat.
BAB III. PENUTUP
A. KESIMPULAN
Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk
pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhirnya yang disajikan secara
khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bingkai dari
penerapan suatu pendekatan, metode dan teknik pembelajaran. Model pembelajaran presentasi
adalah salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk memperkuat
struktur kognitif siswa- pengetahuan mereka tentang pelajaran tertentu dan
bagaimana mengelolah, memperjelas, dan memelihara pengetahuan tersebut dengan
baik. Model
pengajaran presentasi yang dikembangkan di sini berdasarkan atas ide Ausubel
mengenai permasalahan, struktur kognitif, daya serap pembelajaran aktif, dan
pengelolaan kelas lanjutan
B. SARAN
Sebagai calon guru, hendaknya kita mempelajari
berbagai macam model-model pembelajaran dengan sungguh-sungguh, sehingga kita
dapat mengaplikasikannya dalam pembelajaran yang akan kita alami kemudian hari.
Model pembelajaran sangat penting karena dapat mempengaruhi keberhasilan
pengajaran bagi guru, dan belajar bagi siswa. Penggunaan model harus
disesuaikan dengan keadaan sekolah, keadaan guru, keadaan siswa, serta
kurikulum yang ada.
DAFTAR
PUSTAKA
Setyo Hartanto:
Teori_Belajar_Kognitif_David_Ausubel, dari: http://www.setyo_hartono.blog.com/.pdf./
Diposting pada Maret 19, 2014, oleh Reni Nazta,, Model advance organizer,dari: http://www.slideshare.mt/reninazta?utm/.
Post at November 30, 2005, by
Kathy Joan Daniel,: Advance organizers: Activating and Building Schema
for more Successful learning in students with disabilities, from: http://www.Daniel_Kmdan2@netscape.com./