Jumat, 10 Oktober 2014

BELAJAR DENGAN MODEL PRESENTASI

BAB I. PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Dalam implementasi kurikulum, model, pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, karena suatu model tertentu yang digunakan dalam implementasikan kurikulum membawa implikasi terhadap penggunaan pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran tertentu pula. Dalam implementasi kurikulum atau proses pembelajaran selalu ditemukan istilah model pembelajaran. Model pengajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan pembelajaran. Pola urutan dari macam-macam model pengajaran memiliki komponen yang sama. Salah satu dari model pembelajaran tersebut adalah model presentasi.
Model Presentasi merupakan adaptasi dari model Advance Organizer  yang mengharuskan guru untuk mempersiapkannya sebelum  mempresentasikan informasi baru dan secara khusus  memperkuat dan memperluas  pemikiran siswa selama dan setelah presentasi. Pendekatan ini banyak dipilih oleh guru karena cocok dengan pengetahuan sekarang tentang cara individu memperoleh, memproses dan menyimpan informasi baru; dan berbagai komponen model ini telah dikaji dengan seksama sehingga memberikan dasar pengetahuan yang substansial, meskipun tidak selalu konsisten. Secara singkat hasil belajar model presentasi  cukup jelas dan tidak rumit dalam membantu siswa memperoleh, mengasimilasi, menyimpan informasi baru; memperluas struktur konseptual dan kebiasaan mendengarkan dan memikirkan informasi.


2.      Tujuan
·         Mengenal model pengajaran presentasi,
·         Mengetahui tahapan-tahapan, aplikasi, serta dampak penggunaanya.





BAB II. PEMBAHASAN
BELAJAR DENGAN MODEL PRESENTASI

David Ausubel adalah seorang ahli teori pendidikan yang berbeda. Pertama, ia langsung menujukan pada tujuan mempelajari suatu materi. Kedua, ia mendukung peningkatan metode pengajaran presentasional (kuliah dan membaca) pada saat para ahli teori dan kritikus sosial lain menguji validitas metode-metode ini dan menemukan kesalahan pada sifat pasif pembelajaran ekspositori. Bertentangan dengan mereka yang mendukung metode pengajaran discovery, “pendidikan terbuka,” dan pembelajaran berbasis pengalaman, tanpa malu Ausubel mempertahankan penguasaan materi akademik melalui presentasi.
Ausubel juga salah satu ahli psikologi pendidikan yang menujukan pembelajaran, pengajaran, dan kurikulum secara berkesinambungan. Teorinya mengenai pembelajaran verbal bermakna berhubungan dengan tiga hal: (1) bagaimana pengetahuan (isi kurikulum) disusun, (2) bagaimana otak bekerja untuk memproses informasi baru (pembelajaran), dan (3) bagaimana guru bisa menerapkan ide-ide mengenai kurikulum dan pembelajaran ketika mereka mengajarkan materi baru kepada siswa (pengajaran).

1. Tujuan dan Asumsi
Perhatian utama Ausubel adalah untuk membantu guru dalam menyusun dan menyampaikan sejumlah besar informasi sebermakna dan seefisien mungkin. Ia meyakini bahwa akuisisi bersifat valid, juga merupakan tujuan pengajaran yang esensial, dan bahwa teori-teori tertentu bisa memandu guru dalam menyampaikan ilmu kepada siswa. Pendapatnya bisa diterapkan pada situasi di mana guru memiliki peran sebagai organisator suatu materi pelajaran dan menyajikan informasi melalui kuliah, bacaan, dan pemberian tugas kepada siswa untuk mengintegrasikan apa yang telah dipelajari. Dalam pendekatannya, guru bertanggung jawab menyusun dan menyajikan apa yang akan dipelajari. Peran utama siswa adalah untuk menguasai ide-ide dan informasi. Mengingat pendekatan induktif membantu siswa untuk mengetahui dan mengetahui kembali konsep-konsep, maka organisator terdepan harus memberikan konsep-konsep dan dasar-dasar kepada siswa secara langsung. Secara mengesankan, Ausubel meyakini bahwa siswa harus menjadi konstruktor aktif terhadap ilmu pengetahuan, tetapi rutenya mengajarkan mereka mengenai metalevel dari suatu disiplin ilmu dan relatif memberikan metakognisi terhadap bagaimana mereka merespon pengajaran secara produktif, daripada memulai dengan dunia perseptual dan merangsang mereka terhadap strukturnya.
Model organisator terdepan dirancang untuk memperkuat struktur kognitif siswa-pengetahuan mereka mengenai suatu subjek pada waktu tertentu dan seberapa baik, jelas, dan stabil tersusunnya suatu pengetahuan. Dengan kata lain, struktur kognitif berhubungan dengan jenis bidang ilmu di dalam otak kita, seberapa banyak, dan seberapa baik susunannya.
Ausubel mempertahankan pendapat bahwa struktur kognitif yang dimiliki seseorang merupakan faktor yang terus-menerus menentukan apakah materi baru akan bermakna dan seberapa baik hal tersebut bisa dipahami dan dipertahankan. Sebelum kita bisa menyampaikan materi baru secara efektif, kita harus meningkatkan stabilitas dan kejelasan struktur yang dimiliki oleh siswa kita. Hal ini dilakukan dengan memberikan konsep yang menentukan informasi yang akan diberikan kepada mereka. Contohnya galeri seni, di mana dosen menyampaikan materi bahwa karya seni merefleksikan budaya dan perubahan budaya, dimaksudkan untuk memberikan perancah intelektual yang akan memungkinkan siswa untuk melihat informasi yang terdapat dalam lukisan dengan lebih jelas. Membuka kursus kimia seperti apa yang dilakukan oleh Wendy dan Keith merupakan contoh lain—siswa memiliki sedikit pengetahuan tentang kimia, jadi dengan menyusun konsep-konsep menyediakan struktur konseptual yang bisa dibangun oleh kursus tersebut. Dengan memperkuat struktur kognitif siswa dalam hal ini memfasilitasi akuisisi dan retensi mereka mengenai informasi baru. Ausubel menolak pendapat bahwa pembelajaran dengan menyimak, menonton, atau membaca adalah cara belajar yang pasif dan tidak bermakna. Sebenarnya bisa juga, tetapi tidak akan terjadi jika otak siswa dipersiapkan untuk menerima dan memproses informasi. Jika otak mereka tidak dipersiapkan, siswa harus kembali belajar dengan cara menghafal (mengulang materi lagi dan lagi), yang tentu saja sukar dilakukan dan sangat mudah dilupakan. Berbagai metode pengajaran yang tidak digunakan dengan baik bisa membawa pada pembelajaran yang menekankan hafalan. Tidak ada pengecualian untuk menggunakan pengajaran ekspositori. Metode itu berguna dalam memproses informasi secara aktif.
Apa yang Dimaksud dengan Bermakna?
Menurut Ausubel, bermakna tidaknya suatu materi lebih tergantung pada kesiapan siswa dan penyusunan materi daripada metode presentasi. Jika siswa memulai dengan “set” yang benar, dan jika materinya disusun dengan baik, maka pembelajaran yang bermakna bisa terjadi.

Apakah Pembelajaran Reseptif Bersifat Pasif?
Ausubel mengatakan “Tidak!” selama terbentuknya kondisi yang sesuai. Selama kuliah atau bentuk pengajaran ekspositori lain, otak pendengar atau penonton bisa cukup aktif. Tetapi mereka harus terlibat dalam materi yang berkaitan dengan struktur kognitif mereka. Ausubel berbicara mengenai kerja keras siswa dalam penguasaan materi, melihatnya dari sisi yang berbeda, merekonsiliasinya dengan informasi yang serupa atau bahkan bertentangan, dan dengan menerjemahkannya kedalam referensi dan terminologi yang mereka miliki. Tetapi, hal ini tidak terjadi secara otomatis.

2. Model Pengajaran
Model pengajaran yang dikembangkan di sini berdasarkan atas ide Ausubel mengenai permasalahan, struktur kognitif, daya serap pembelajaran aktif, dan pengelolaan kelas lanjutan.
A. Sintaksis
Model organiser lanjutan memiliki tiga tahap. Tahap pertama yaitu penyajian atas organiser lanjutan, tahap kedua yaitu penyajian atas tugas-tugas belajar atau bahan ajar, dan tahap ketiga yaitu penguatan kognitif. Tahap ketiga menguji hubungan bahan ajar terhadap gagasan yang ada untuk melahirkan proses belajar yang aktif. Rangkuman dari sintaksis disajikan dalam tabel.
Tahap Pertama:
·         Penyajian
·         Pengelolaan Kelas Lanjutan
Tahap Kedua:
·         Penyajian tugas belajar atau bahan ajar
·         Menjelaskan tujuan pembelajaran.
·         Menyajikan pengelolaan:
·         Menjelaskan permasalahan.
·         Memberikan contoh
·         Memberikan konteks.
·         Mengulang.
·         Mendorong kesadaran atas pemahaman dan pengalaman siswa.
·         Menyajikan materi.
·         Menarik perhatian
·         Membuat pengelolaan explisit.
·         Membuat hubungan logis dari proses belajar secara explisit.

Tahap Ketiga:
·         Penguatan Pengelolaan Kognitif
·         Menggunakan prinsip rekonsiliasi integratif.
·         Mendukung daya serap pembelajaran secara aktif
·         Menghindari pendekatan yang kritis atas subjek permasalahan.
·         Mengklarifikasi.


Aktifitas tersebut di atas didisain untuk meningkatkan kejelasan dan kestabilan bahan ajar yang baru sehingga dapat meminimalisir hilangnya ide, bingung antara satu hal dan yang lainnya, atau meninggalkan ketidak jelasan. Siswa harus mengunakan materi ketika mereka menerimanya dengan mengkorelasikan bahan ajar yang baru dengan pengalaman pribadi dan struktur kognitif yang telah ada, dan dengan sikap kritis terhadap pengetahuan.
Tahap satu terdiri dari tiga aktifitas: Menjelaskan tujuan pembelajaran. menyajikan materi, dan mendorong kesadaran atas pemahaman dan pengalaman siswa. Menjelaskan tujuan pembelajaran merupakan satu cara untuk mendapatkan perhatian siswa dan untuk membimbinb mereka mencapai tujuan pendidikan, kedua hal tersebut sangat penting untuk memfasilitasi pembelajaran yang bermakna. (Menjelaskan tujuan juga sangat berguna bagi guru dalam merancang sebuah rencana pengajaran.)
Seperti yang telah dijelaskan, pengelolaan kelas bukan hanya sekedar pernyataan yang simpel dan singkat; hal tersebut merupakan suatu gagasan dan seperti materi pembelajaran harus digali secara intelektual. Metode tersebut juga harus dipisahkan dari pengenalan materi yang berguna untuk pelajaran tetapi bukan pengelolaan kelas lanjutan. Sebagai contoh, ketika kita mengajar, banyak diantara kita yang mulai dengan perkenalan dengan meminta siswa untuk mengingat apa yang mereka kerjakan minggulalu atau tahun lalu atau dengan mengatakan pada mereka apa yang akan mereka lakukan esok hari. Dalam hal ini, kita memberi mereka sebuah konteks atau orientasi untuk presentasi kita. Atau kita mungkin meminta siswa untuk mengingat pengalaman dan mengatakan apa yang akan kita sampaikan akan menolong mereka untuk memahami pengalaman sebelumnya. Kita juga mungkin mengatakan pada mereka tujuan dari proses belajar pada saat itu-apa yang kita harapkan adalah mereka mendapatkan manfaat dari presentasi ataupun diskusi yang telah mereka lakukan.
Tak satupun dari teknik yang dijabarkan merupakan organiser lanjutan. Namun, semua bagian dari presentasi yang terorganisir dengan baik, dan merefleksikan prinsip yang penting dalam teori Ausuble mengenai pembelajaran verbal bermakna dan merupakan bagian dari model pengajaran.
Organiser aktual dikembangkan diseputar konsep utama dan/atau proposisi dari sebuah disiplin ilmu atau area pembelajaran. Pertama, pengelola telah di konstruksi sehingga pelajar dapat memperolehnya-suatu ide berbeda dan lebih inklusif dari material pembelajaran itu sendiri. Tampilan dari organiser yang paling utama yaitu pada level yang lebih tinggi dari abstraksi merupakan organiser yang dibedakan dari introduktori overview, yang ditulis (atau dikatakan) pada level yang sama dari abstraksi sebagai materi pembelajaran karena pada kenyataannya mereka merupakan preview dari pembelajaran.
Kedua, apakah organiser merupakan expositori atau komparatif, tampilan yang paling esensial dari sebuah konsep atau proposisi harus di garisbawahi dan dijelaskan dengan hati-hati. Namun, guru dan siswa harus menggali organiser seperti halnya tugas pembelajaran. Untuk kita, hal ini berarti menyebutkan ciri-ciri penting, menjelaskannya, dan memberikan contoh. Presentasi suatu organiser tidak harus lama, tetapi harus dipahami (pembelajar harus sadar akan hal tersebut), dengan jelas dapat dimengerti, dan berhubungan dengan materi yang diberikan. Hal tersebut berarti siswa harus sudah mengenal bahasa dan ide-ide yang ada pada organiser. Hal tersebut juga berguna untuk mengilustrasikan organiser dalam konteks perkalian dan untuk mengulang beberapa kali, terutama untuk terminologi baru tertentu. Terakhir, sangat penting untuk mendorong kesadaran siswa atas pengetahuan dan pengalaman yang mungkin relevan dengan pembelajaran dan organiser.
Berikut merupakan presentasi dari organiser lanjutan dalam tahap pertama, materi pembelajaran disajikan pada tahap dua dalam pembelajaran formal, diskusi, filem, eksperimen, atau bacaan. Selama presentasi, pengelolaan materi pembelajaran perlu untuk disajikan secara eksplisit sehingga seluruh pancaindra siswa diarahkan dan dapat melihat susunan logis dari materi dan bagaimana pengelolaan berhubungan dengan organizer lanjutan.
Tujuan dari tahap ketiga yaitu untuk mengikat materi pembelajaran baru dalam struktur kognitif siswa-yaitu untuk menguatkan pengorganisasian kognitif siswa. Dalam pengajaran bahasa, beberapa dari prosedur tersebut mungkin dikorporasikan kedalam dua tahap; namun, kami ingin menitik beratkan pada pengerjaan ulang dari materi pembelajaran baru yang merupakan tugas mengajar yang terpisah, dengan sejumlah kegiatan dan kemampuannya sendiri. Ausubel menjelaskan empat aktifitas:
(1)   mendukung rekonsiliasi integratif.
(2)   mendukung daya serap pembelajaran yang aktif.
(3)   mengadakan pendekatan kritis terhadap subjek permasalahan.
(4)   memberikan klarifikasi.
Ada beberapa cara untuk memfasilitasi rekonsiliasi materi baru dengan struktur kognitif yang telah ada. Guru dapat
1)      Mengingatkan siswa dengan ide-ide (gambar yang besar),
2)      Meminta siswa untuk membuat rangkuman dari atribut utama daribahan ajar yang baru,
3)      Mengulang definisi-definisi yang penting
4)      Meminta siswa untuk membuat perbedaan antara aspek material dan
5)      Meminta siswa untuk menjelaskan bagaimana bahan ajar mendukung konsep atau proposisi yang digunakan oleh organizer.

Pembelajaran yang aktif dapat didukung oleh (1) meminta siswa untuk menjelaskan bagaimana materi baru berhubungan dengan organiser (2) meminta siswa untuk memberikan contoh lain dari konsep atau proposisi dalam bahan ajar, (3) meminta siswa untuk memverbalkan esensi dari materi dengan menggunakan terminologi dan kerangka referensi mereka sendiri, dan (4) meminta siswa untuk menelaah materi dari sudut pandang alternatif.
Pendekatan kritis terhadap pengetahuan dikembangkan dengan meminta siswa untuk mengenali asumsi ataau kesimpulan yang telah dibuat dalam materi pembelajaran, untuk menilan dan menantang asumsi dan kesimpulan tersebut, dan untuk merekonsiliasi kontradiksi diantara mereka.
Tidak mungkin atau tidak disarankan untuk menggunakan seluruh teknik tersebut dalam satu pelajaran. Batasan waktu, topik, dan relevansi atas situasi proses belajar tertentu akan menentukan kegunaannya. Namun, penting untuk mengingat keempat tujuan dari tahap-tahap tersebut dan teknik khusus untuk pengajaran expository yang efektif. Pada awalnya, guru harus merespon kebutuhan siswa untuk mengklarifikasi beberapa topik dan untuk integrasi dari materi baru dengan pengetahuan yang sudah ada.
Pada dasarnya, Ausubel telah memberikan kita suatu metode untuk meningkatkan tidak hanya presentasi tetapi juga kemampuan siswa untuk mempelajarinya. Semakin sering kita mengajar siswa menjadi aktif-untuk menyusun ide-ide, merekonsiliasi informasi, dan menghasilkan organiser mereka sendiri. (terhubung dengan aktifitas induktif padasaat membaca atau menonton)-semakin besar potensi mereka untuk mendapatkan hasil dari presentasi selanjutnya.
B. Sistem Sosial
Dalam model ini guru menguasai kontrol terhadap struktur intelektual, karena haltersebuat tetap penting untuk menghubungkan materi pembelajaran dengan organiser dan untuk membantu siswa untuk membedakan materi baru dari materi pembelajaran sebelumnya. Pada tahap ketiga situasi pembelajaran secara ideal jauh lebih interaktif, dengan banyak pertanyaan dan komentar yang diajukan siswa. Proses pembelajaran yang berhasil tergantung dari hasrat siswa untuk mengintegrasikannya dengan pengetahuan yang telah ada, atas kemampuan kritis mereka, dan atas presentasi guru dan pengorganisasian bahan ajar.
C. Prinsip Reaksi
Respon guru atas reaksi siswa baik yang didapat ataupun tidak akan dituntun oleh tujuan dari kejelasan makna dari materi pembelajaran baru, membedakannya dan menyesuaikannya dengan pengetahuan yang ada, membuatnya lebih relevan secara personal terhadap siswa dan membantu mempromosikan sebuah pendekatan kritis terhadap pengetahuan. Secara ideal, siswa akan mengajukan pertanyaan mereka sendiri sebagai respon atas hasrat mereka untuk menemukan makna atau arti.
D. Sistem Dukungan
Material terorganisir yang baik adalah persyaratan dukungan yang kritis dari model ini. Efektivitas dari organisator lanjutan bergantung pada satu hubungan yang sesuai dan yang integral antara organisator yang konseptual dan isi. Model ini menyediakan petunjuk untuk membangun (atau menyusun kembali) material-material instruksional.
3. Penerapan
Penggunaan Instruksional
Model organiser lanjutan berguna terutama untuk pengembangan sekwensi kurikulum atau pembelajaran dan untuk mengajar ide pokok kepada siswa secara sistematis. Selangkah demi selangkah, konsep utama dan proposisi di jelaskan dan diintegrasikan sehingga pada ahkhir periode pengajaran, pelajar mendapatkan prespektif dari seluruh bidang yang telah mereka pelajari.
Kita juga harus meningkatkan daya tangkap siswa atas informasi faktual yang terkait dan dijelaskan oleh ide-ide yang penting. Sebagai contoh, konsep sosialisasi dapat di ulang dalam pelajaran pola sosialisasi dalam kultur dan subkultur yang berbeda. Organiser lanjutan ini membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuannya mengenai kebudayaan.
Model tersebut dapat juga digunakan untuk mengajarkan keahlian daya tangkap pembelajaran yang efektif. Pemikiran kritis dan reorganisasi kognitif dapat dijelaskan kepada siswa, yang menerima instruksi langsung dalam pemikiran yang teratur dan dalam gagasan dari hirarki pengetahuan. Akhirnya, mereka dapat menerapkan teknik tersebut secara mandiri pada pembelajaran lainnya. Dengan kata lain, model tersebut dapat meningkatkan keefektipan dalam membaca dan menonton film dan aktifitas belajar lainnya.
Model lainnya juga berguna untuk mengevaluasi atau menerapkan materi yang disajikan oleh organiser lanjutan. Sebagai contoh, model organiser lanjutan setelah memperkenalkan materi baru dalam sebuah deduktif, cara presentasional, dapat diikuti oleh konsep aktifitas induktif yang mendukung materi atau yang secara informal mengevaluasi pencapaian materi oleh siswa.

4. Instruksional dan Dampak
Kemungkinan dari manfaat dari model tersebut terlihat jelas-ide-ide mereka sendiri yang digunakan sebagai organiser dipelajari seperti halnya informasi yang disampaikan pada siswa. Kemampuan untuk belajar membaca, mengajar, dan media lainnya yang digunakan untuk presentasi merupakan efek lain, seperti ketertarikan dalam inkuiri dan kebiasaan berfikir tepat.

BAB III. PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhirnya yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode dan teknik pembelajaran. Model pembelajaran presentasi adalah salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk memperkuat struktur kognitif siswa- pengetahuan mereka tentang pelajaran tertentu dan bagaimana mengelolah, memperjelas, dan memelihara pengetahuan tersebut dengan baik. Model pengajaran presentasi yang dikembangkan di sini berdasarkan atas ide Ausubel mengenai permasalahan, struktur kognitif, daya serap pembelajaran aktif, dan pengelolaan kelas lanjutan
B.     SARAN
Sebagai calon guru, hendaknya kita mempelajari berbagai macam model-model pembelajaran dengan sungguh-sungguh, sehingga kita dapat mengaplikasikannya dalam pembelajaran yang akan kita alami kemudian hari. Model pembelajaran sangat penting karena dapat mempengaruhi keberhasilan pengajaran bagi guru, dan belajar bagi siswa. Penggunaan model harus disesuaikan dengan keadaan sekolah, keadaan guru, keadaan siswa, serta kurikulum yang ada.






DAFTAR PUSTAKA

Setyo Hartanto: Teori_Belajar_Kognitif_David_Ausubel, dari: http://www.setyo_hartono.blog.com/.pdf./ 

Diposting pada Maret 19, 2014, oleh Reni Nazta,, Model advance organizer,dari: http://www.slideshare.mt/reninazta?utm/. 

Post at November 30, 2005, by Kathy Joan Daniel,:  Advance organizers: Activating and Building Schema for more Successful learning in students with disabilities, from: http://www.Daniel_Kmdan2@netscape.com./